Wajah-wajah sendu penuh cinta
Terbungkus kain kotor, dekil dan berdebu
Melahap sesuap demi sesuap nasi tanpa lauk
Dari selembar daun pisang
Diiringi debu-debu jalanan
Dalam balutan angin malam yang menusuk tulang
Adakah yang melihatnya ?
Atau sekedar melihat tapi tak berbuat ?
Atau berbuat karena sesuatu yang lebih besar ?
Di emperan toko, mereka hidup
Di kolong jembatan penuh genangan air mereka pun hidup
Lalu…bagaimana dengan kita yang nyaman di atas kasur
Di bawah atap megah nan berkilau keramik mewah
Atau sekedar menikmati secangkir teh panas
Beserta sepotong roti goreng yang enak
(hanan)
Siang bersama hujan, angkutan umum yang saya tumpangi melewati jembatan di jalan juanda medan. Merasakan betapa dinginnya siang yang harusnya matahari bersinar terik. Ada banyak jejak basah yang menempel di trotoar jembatan. Ramai seketika. Ada apa gerangan ? Oh, lihatlah…sungai itu meluap lagi. Saya melihat banyak sekali rumah yang tenggelam hampir setengah bagiannya. Kejadian ini sudah berulang kali terjadi jika hujan lebat turun. Tapi yang sangat disayangkan, lagi-lagi orang yang sama yang menjadi korban dan mereka sama sekali tidak mau pergi dari sana, mungkin karena tak ada ganti rugi terhadapnya. Mereka berlari membawa barang-barangnya hingga air surut kembali, barulah kembali ke rumah masing-masing. Entah siapa yang salah, saya tak berani menyalahkan siapa atau apa. Yang jelas, alam tak pernah bersalah, sebab ia tak memiliki akal. Alam hanya tunduk pada kekuasaan Yang Maha Esa.
Lalu masih di sepanjang jalan juanda dan di waktu yang sama, fokusnya di sebuah persimpangan jalan sisingamangaraja dan halat, ada pemandangan yang begitu mengharukan di sana. Anda bisa membayangkan ? Seorang nenek tua sedang tidur pulas beralas kardus dekil. Seorang lelaki baya, sedang duduk termenung, baru bangun dari tidur saya rasa. Ia mengenakan pakaian yang tak kalah dekil dengan nenek tadi. Wajahnya kusam, kusut, lelah, bercampur di raut mukanya. Bertopang dagu ia memandang ke jalan raya. Lalu seorang wanita baya, saya tebak istri lelaki tadi…pun mengenakan pakaian yang juga tak kalah lusuh dengan yang lain. Mereka semua bertubuh kurus. Belum lagi di pojok ruangan terdapat panci, ember, piring plastik, dan entah apa lagi yang ada di sana, saya kurang jelas melihatnya. Ya ruangan mungkin bagi mereka, walau hanya sebuah emperan toko kosong penuh debu. Anaknya masih balita. Menghirup lapis demi lapis debu setiap harinya. Tulang yang digerogoti dingin setiap malam. Alhasil, mereka menjadi pengemis setiap lampu merah berhenti.
Sesaat saya tertegun, inikah wajah negeri kita? Dalam setiap masa akan selalu hadir orang-orang yang tak berharta, orang-orang yang semakin hari semakin papa, mengais rezeki dari satu tong sampah ke tong sampah lainnya. Orang-orang yang semakin miskin karena dipermiskin oleh orang-orang tertentu, atau mungkin mereka sendiri penyebabnya, bisa jadi kemalasan atau ketidaksabaran yang menggoda. Bagaimanapun, mereka itu orang-orang pinggiran. Perlu perhatian dari banyak pihak. Mungkin juga keterbatasan ekonomi, atau keterbatasan pendidikan sehingga mereka tak mampu berfikir jauh ke depan. Yang ada hanya bagaimana berfikir mendapatkan uang untuk makan hari ini. Besok pun begitu, dan lusa pun sama. Kapankah lagi memikirkan hal lain seperti pendidikan anak misalnya? Saya rasa mungkin sulit.
Di pikiran kita mungkin terlintas banyak ide untuk membantu mereka. Membantu dengan kemandirian, bukan kemanjaan. Bisa jadi dengan memberikan mereka modal dan pelatihan usaha misalnya? Atau memasukkan mereka ke dalam program rumah sederhana dengan beberapa ketentuan yang tidak mempersulit ? Atau juga dengan membantu anak-anak mereka dalam program orang tua asuh ? Atau apa? Lantas apa yang bisa kita lakukan? Anda tahu apa yang harus dilakukan ?
Created by : hanan2jahid
Terbungkus kain kotor, dekil dan berdebu
Melahap sesuap demi sesuap nasi tanpa lauk
Dari selembar daun pisang
Diiringi debu-debu jalanan
Dalam balutan angin malam yang menusuk tulang
Adakah yang melihatnya ?
Atau sekedar melihat tapi tak berbuat ?
Atau berbuat karena sesuatu yang lebih besar ?
Di emperan toko, mereka hidup
Di kolong jembatan penuh genangan air mereka pun hidup
Lalu…bagaimana dengan kita yang nyaman di atas kasur
Di bawah atap megah nan berkilau keramik mewah
Atau sekedar menikmati secangkir teh panas
Beserta sepotong roti goreng yang enak
(hanan)
Siang bersama hujan, angkutan umum yang saya tumpangi melewati jembatan di jalan juanda medan. Merasakan betapa dinginnya siang yang harusnya matahari bersinar terik. Ada banyak jejak basah yang menempel di trotoar jembatan. Ramai seketika. Ada apa gerangan ? Oh, lihatlah…sungai itu meluap lagi. Saya melihat banyak sekali rumah yang tenggelam hampir setengah bagiannya. Kejadian ini sudah berulang kali terjadi jika hujan lebat turun. Tapi yang sangat disayangkan, lagi-lagi orang yang sama yang menjadi korban dan mereka sama sekali tidak mau pergi dari sana, mungkin karena tak ada ganti rugi terhadapnya. Mereka berlari membawa barang-barangnya hingga air surut kembali, barulah kembali ke rumah masing-masing. Entah siapa yang salah, saya tak berani menyalahkan siapa atau apa. Yang jelas, alam tak pernah bersalah, sebab ia tak memiliki akal. Alam hanya tunduk pada kekuasaan Yang Maha Esa.
Lalu masih di sepanjang jalan juanda dan di waktu yang sama, fokusnya di sebuah persimpangan jalan sisingamangaraja dan halat, ada pemandangan yang begitu mengharukan di sana. Anda bisa membayangkan ? Seorang nenek tua sedang tidur pulas beralas kardus dekil. Seorang lelaki baya, sedang duduk termenung, baru bangun dari tidur saya rasa. Ia mengenakan pakaian yang tak kalah dekil dengan nenek tadi. Wajahnya kusam, kusut, lelah, bercampur di raut mukanya. Bertopang dagu ia memandang ke jalan raya. Lalu seorang wanita baya, saya tebak istri lelaki tadi…pun mengenakan pakaian yang juga tak kalah lusuh dengan yang lain. Mereka semua bertubuh kurus. Belum lagi di pojok ruangan terdapat panci, ember, piring plastik, dan entah apa lagi yang ada di sana, saya kurang jelas melihatnya. Ya ruangan mungkin bagi mereka, walau hanya sebuah emperan toko kosong penuh debu. Anaknya masih balita. Menghirup lapis demi lapis debu setiap harinya. Tulang yang digerogoti dingin setiap malam. Alhasil, mereka menjadi pengemis setiap lampu merah berhenti.
Sesaat saya tertegun, inikah wajah negeri kita? Dalam setiap masa akan selalu hadir orang-orang yang tak berharta, orang-orang yang semakin hari semakin papa, mengais rezeki dari satu tong sampah ke tong sampah lainnya. Orang-orang yang semakin miskin karena dipermiskin oleh orang-orang tertentu, atau mungkin mereka sendiri penyebabnya, bisa jadi kemalasan atau ketidaksabaran yang menggoda. Bagaimanapun, mereka itu orang-orang pinggiran. Perlu perhatian dari banyak pihak. Mungkin juga keterbatasan ekonomi, atau keterbatasan pendidikan sehingga mereka tak mampu berfikir jauh ke depan. Yang ada hanya bagaimana berfikir mendapatkan uang untuk makan hari ini. Besok pun begitu, dan lusa pun sama. Kapankah lagi memikirkan hal lain seperti pendidikan anak misalnya? Saya rasa mungkin sulit.
Di pikiran kita mungkin terlintas banyak ide untuk membantu mereka. Membantu dengan kemandirian, bukan kemanjaan. Bisa jadi dengan memberikan mereka modal dan pelatihan usaha misalnya? Atau memasukkan mereka ke dalam program rumah sederhana dengan beberapa ketentuan yang tidak mempersulit ? Atau juga dengan membantu anak-anak mereka dalam program orang tua asuh ? Atau apa? Lantas apa yang bisa kita lakukan? Anda tahu apa yang harus dilakukan ?
Created by : hanan2jahid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar